Berita

Merawat Alam, Merawat Spiritualitas: BDK Denpasar siap lakukan pendampingan SCOCI

Admin

Penulis

Jumat, 08 Mei 2026

Merawat Alam, Merawat Spiritualitas: BDK Denpasar siap lakukan pendampingan SCOCI

BDK Denpasar siap lakukan pendampingan SCOCI

Denpasar — Rapat Koordinasi Pendampingan SCOCI (System Coaching Clinic) Ekoteologi digelar oleh Balai Diklat Keagamaan Denpasar. Rapat ini sebagai tindak lanjut dari rencana aksi peserta Bimbingan Teknis (Bimtek) Ekoteologi yamg merupakan penyuluh agama se-Provinsi Bali. Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk memastikan implementasi program ekoteologi berjalan secara nyata dan menyentuh berbagai lapisan masyarakat.

Pendampingan SCOCI Ekoteologi menyasar beragam lingkungan sosial, mulai dari sekolah, komunitas PKK, lembaga pemasyarakatan, panti asuhan, hingga para penyewa kos. Melalui pendekatan pendampingan yang partisipatif, para penyuluh diharapkan mampu menghadirkan gerakan perubahan yang tidak hanya berorientasi pada kebersihan lingkungan, tetapi juga membangun kesadaran spiritual masyarakat terhadap pentingnya menjaga alam.

Dalam rakor tersebut ditegaskan bahwa persoalan lingkungan bukan semata-mata rendahnya kepedulian terhadap kebersihan, melainkan masih kuatnya cara pandang yang memisahkan manusia dari alam. Lingkungan sering kali diposisikan hanya sebagai objek yang dimanfaatkan, bukan bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual manusia kepada Tuhan.

Karena itu, program ekoteologi diarahkan untuk mengubah paradigma masyarakat agar memandang alam sebagai bagian dari relasi kehidupan yang sakral. Sekolah, misalnya, tidak hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga ruang pembentukan kesadaran ekologis-spiritual melalui praktik sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti pengelolaan sampah, penghijauan, penghematan energi, hingga budaya hidup bersih dan ramah lingkungan.

Melalui pendampingan SCOCI ini, para penyuluh agama diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang menanamkan nilai-nilai keagamaan berbasis kepedulian lingkungan di tengah masyarakat. Dengan demikian, gerakan ekoteologi tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi menjadi budaya hidup yang tumbuh dari kesadaran bersama untuk merawat bumi sebagai amanah Tuhan.

Editor

Admin

Fotografer

Admin