Opini

Opini SCOCI Ekoteologi

Admin

Penulis

Jumat, 08 Mei 2026

Opini SCOCI Ekoteologi

Saprillah (Kepala BDK Denpasar)

Sejak beberapa tahun terakhir, Balai Diklat Keagamaan Denpasar mengembangkan metode pembelajaran mikro bernama SCOCI (System Coaching Clinic). SCOCI dirancang sebagai model pembimbingan intensif kepada agen perubahan sosial dalam skala terbatas agar proses penguatan kapasitas dapat berlangsung lebih fokus, mendalam, dan mencapai level implementasi maksimal.

Berbeda dengan pola pelatihan konvensional yang berhenti pada transfer pengetahuan, SCOCI menempatkan pendampingan pasca-pelatihan sebagai inti utama. Pendekatan ini bertujuan memastikan bahwa gagasan yang lahir dari proses pembelajaran benar-benar berubah menjadi tindakan  yang terukur dan berdampak. Misal seorang guru dibimbing metode KTI (Karya Tulis Ilmiah) hingga bisa melahirkan karya dan prestasi nasional.

Pada tahun 2026, SCOCI digunakan sebagai instrumen utama penguatan Gerakan Ekoteologi BDK Denpasar agar menghasilkan dampak nyata di masyarakat. Program diawali dengan melakukan pelatihan kepada 60 orang penyuluh agama dari 9 kabupaten/kota di Provinsi Bali yang dibagi dalam dua angkatan.

Dari pelatihan tersebut dihasilkan:

  • 60 orang penyuluh terlatih di  bidang ekoteologi;

  • 18 action plan gerakan ekoteologi berbasis wilayah dan komunitas dampingan.

Action plan tersebut diposisikan sebagai bentuk komitmen sekaligus “kontrak intelektual” antara BDK Denpasar dan para alumni pelatihan. Dengan demikian, pelatihan tidak dipahami sebagai kegiatan seremonial, tetapi sebagai awal dari proses perubahan sosial berbasis aksi.

Untuk memastikan setiap action plan dapat berjalan secara nyata, BDK Denpasar menggunakan instrumen SCOCI melalui mekanisme pendampingan intensif. Dalam proses ini, para Widyaiswara dan ASN BDK Denpasar yang ditugaskan melakukan penguatan desain, asistensi implementasi, serta monitoring perkembangan action plan para penyuluh di lapangan.

Fokus utama pendampingan SCOCI diarahkan pada beberapa agenda berikut:

1. Penguatan Paradigma Ekoteologi

Para penyuluh didorong memahami bahwa gerakan lingkungan bukan sekadar agenda ekologis, tetapi bagian dari praktik keberagamaan dan tanggung jawab moral manusia terhadap kehidupan.

Pendekatan ini penting untuk membedakan Gerakan Ekoteologi Kementerian Agama dengan gerakan lingkungan teknis yang dijalankan kementerian/lembaga lain. Dengan demikian, posisi penyuluh tidak hanya sebagai penggerak kebersihan lingkungan, tetapi sebagai penggerak kesadaran keberagamaan berbasis kepedulian ekologis.

2. Penyusunan Strategi Habituasi kepada Stakeholder

SCOCI membantu penyuluh menyusun pola habituasi atau pembiasaan yang dapat diterapkan kepada stakeholder binaan, seperti sekolah, rumah ibadah, komunitas keagamaan, dan masyarakat.

Habituasi diarahkan pada praktik sederhana namun berulang, seperti:

  • pengurangan plastik sekali pakai;

  • Narasi-narasi motivasi berbasis keagamaan di sekolah, rumah warga, dan rumah ibadah

  • Membuat poster cara memilah sampah, baik cetak maupun via medsos;

  • gerakan membawa tumbler;

  • kerja bakti berbasis nilai keagamaan;

  • pemanfaatan ruang ibadah sebagai media edukasi lingkungan;

  • kampanye lingkungan dalam ceramah dan penyuluhan agama.

Pendekatan habituasi dipilih agar perubahan tidak bersifat sesaat, tetapi menjadi budaya sosial yang tumbuh secara bertahap.

3. Penguatan Dukungan Struktural dan Kolaboratif

Melalui SCOCI, para penyuluh juga dibimbing untuk membangun dukungan struktural terhadap action plan yang dijalankan. Pendampingan mencakup:

  • identifikasi pihak pendukung;

  • penguatan jejaring kerja sama lintas sektor;

  • pelibatan tokoh agama, sekolah, desa, dan komunitas;

  • penyusunan strategi komunikasi program;

  • penguatan legitimasi kelembagaan gerakan.

Pendekatan ini penting agar gerakan ekoteologi tidak berjalan individual, tetapi menjadi gerakan kolektif berbasis ekosistem sosial.

4. Penyusunan Dampak Perubahan yang Operasional

SCOCI membantu penyuluh menyusun target perubahan yang lebih operasional, terukur, dan mudah dipantau. Dampak perubahan diarahkan pada tiga level utama:

a. Dampak Perilaku

  • meningkatnya kebiasaan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan;

  • berkurangnya penggunaan plastik sekali pakai;

  • tumbuhnya kebiasaan memilah sampah di ruang public, sekolah, dan rumah ibadah.

b. Dampak Sosial dan Kelembagaan

  • terbentuknya komunitas peduli lingkungan berbasis rumah ibadah, sekolah, atau Masyarakat.

  • munculnya kebijakan sederhana pendukung gerakan lingkungan;

  • meningkatnya keterlibatan stakeholder dalam aksi ekologis berbasis keagamaan.

c. Dampak Naratif dan Kesadaran

  • meningkatnya pemahaman bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari praktik beragama;

  • berkembangnya narasi ekoteologi dalam ceramah, pembinaan, dan aktivitas keagamaan;

  • tumbuhnya identitas kolektif bahwa gerakan lingkungan adalah gerakan moral dan spiritual.

Melalui pendekatan SCOCI, BDK Denpasar berupaya membangun model pelatihan yang tidak berhenti pada ruang kelas, tetapi bergerak hingga tahap pendampingan implementasi dan penguatan dampak sosial. Dengan demikian, Gerakan Ekoteologi tidak hanya menghasilkan alumni pelatihan, tetapi melahirkan agen perubahan yang mampu menggerakkan masyarakat secara nyata dan berkelanjutan.

Editor

-

Fotografer

-